Written Culture, Kiat Belajar Menjadi Penulis Kreatif

Written Culture, Kiat Belajar Menjadi Penulis Kreatif

Oleh: Dr. H. Muhammad Nasir, S.Ag. MH, Kakan Kemenag Anambas

Saat mengenang kembali pengalaman masa kecil di desa, banyak ingatan yang masih melekat jelas di benak saya hingga kini. Sewaktu masih kanak-kanak - atau disebut bocah dalam istilah masyarakat Melayu - saya menghabiskan banyak waktu bermain di halaman rumah.

Kala itu, halaman rumah masih sangat alami; permukaannya hanyalah tanah terbuka, tanpa lapisan aspal maupun batu paving. Saya sering bermain dengan tanah, sesekali menggunakan ranting pohon untuk menggambar pemandangan atau menuliskan nama teman-teman karib. Sungguh masa-masa yang indah, meskipun desa itu masih tradisional dan belum teraliri listrik. Di saat itulah kreatifitas menulis di mulai.

Aktivitas menulis terjadi secara luas dalam kehidupan sehari-hari - di luar konteks pendidikan, pekerjaan, ataupun penerbitan - sering kali tanpa kita sadari.

Namun, pengetahuan mengenai cakupan, karakteristik, penerapan, dan konteks sosial dari praktik menulis semacam ini masih terbatas; bahkan, hal tersebut hampir tidak disadari keberadaannya. Aktivitas menulis sehari-hari kurang mendapat pengakuan; tindakan itu sendiri sering kali tidak dianggap sebagai kegiatan menulis, dan pelakunya jarang dipandang sebagai penulis.

Seorang petani Denmark Soren Pedersen Havrebjerg (1809), yang pernah bertempur dalam Perang Napoleon, menulis buku harian merasa kegiatan menulis telah menyelamatkannya dari jerat minuman keras dan pergaulan buruk; ia pun bangga karena mampu menulis surat kepada orang tuanya tanpa harus membayar orang lain untuk melakukannya. Ia menulis dalam buku hariannya:”This art of writing has for me been the most useful, the most pleasant, consoling, encouraging activity in the whole world” (Seni menulis - bagi saya - merupakan kegiatan yang paling bermanfaat, paling menyenangkan, serta paling menenteramkan dan membangkitkan semangat di seluruh dunia (Markussen, 1990).

Sebelum bangsa Eropa mengalami kemajuan, kegiatan tulis-menulis merupakan sarana penindasan dan praktik budaya yang terbatas pada kalangan elite sosial dan politik; namun, menjelang akhir abad ke-19, kegiatan ini telah menjadi hal yang tak tergantikan di setiap lapisan masyarakat Eropa. Saat ini, menulis tangan boleh dikatakan telah memudar, padahal pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 budaya tulis mulai berkembang.

Aktifitas menulis akan terintegrasi ke dalam budaya suatu masyarakat atau bangsa - khususnya di lingkungan akademis - jika seseorang atau masyarakat menyadari berbagai peran penting dari budaya menulis yaitu:

Pertama, Menulis mengembangkan Ilmu pengetahuan melalui buku.

Aktifitas menulis memegang peranan vital dalam kemajuan ilmu pengetahuan melalui buku; tanpa bahasa tulis, teks-teks ilmiah dan akademis tidak akan berkembang seperti saat ini. Sejarah menulis buku di Eropa bermula pada tahun 1958, yang ditandai dengan terbitnya karya berpengaruh L’Apparition du Livre oleh tokoh perintis Lucien Febvre dan Henri-Jean Martin. Febvre dan Martin (1958) mendorong para sejarawan untuk memandang buku sebagai sebuah komoditas—hasil dari proses produksi yang kompleks, di mana pemasaran dan distribusinya dipengaruhi oleh kebutuhan pasar serta bergantung pada jaringan perdagangan yang ada.

Belakangan ini, sejarah membaca sebagai aktivitas sosial dan budaya mulai mengemuka; penelitian yang mengkaji pembaca beserta respons mereka telah menawarkan perspektif baru mengenai tema-tema yang lebih luas dalam sejarah Eropa.

Umpamanya saja, Armando Petrucci adalah pelopor penting yang memadukan pengetahuan paleografi dengan gerakan yang lebih luas dalam sejarah sosial dan budaya. Meskipun fokus utamanya terletak pada kajian teks tertulis penelitiannya memberikan landasan yang signifikan untuk menelusuri praktik penulisan buku di berbagai periode dan waktu (Petrucci, 1986). Sejak itu buku dikenal sebagai sesuatu yang paling berharga, sebab teks yang terhampar di dalam buku merupakan rujukan ilmiyah dalam mengenbangkan ilmu pengetahuan. Hal ini telah dibuktikan oleh Karya Martyn Lyons, “The Writing Culture of Ordinary People in Europe”, memberikan koreksi yang kuat terhadap pandangan yang hanya berfokus pada isi semata saat membaca surat, kartu pos, buku harian, buku kenangan, dan bentuk komunikasi lainnya yang ditulis. Tentu saja, tulisan-tulisan ini memuat bukti langsung informasi yang sarat makna mengenai kondisi sosial dan banyak memuat ungkapan yang bersifat ilmu pengetahuan.

Kedua, Mengembangkan potensi menulis.

Pada dasarnya, setiap individu memiliki kemampuan untuk menulis secara efektif. Namun, karena menulis merupakan sebuah keterampilan, penguasaannya menuntut proses pembelajaran dan latihan yang berkelanjutan serta sistematis. Bahkan individu yang memiliki bakat alami dalam menulis tidak akan dapat meningkatkan kemampuan mereka tanpa latihan yang konsisten. Oleh karena itu, kemampuan menulis seseorang lebih bergantung pada semangat, tekad, dan komitmen untuk mempelajari serta mengasah keterampilan tersebut dibandingkan pada bakat alami semata.

Disamping itu, menulis atau mengarang memerlukan waktu, energi, pikiran, dan perasaan. Cukup banyak hal yang ”dikorbankan” demi membuat sebuah tulisan. Bagi orang yang tidak tahu tujuan dia menulis pengorbanan itu dianggap terlalu mahal, atau bahkan mungkin sia-sia. Oleh karena itu, wajarlah kalau orang enggan untuk menulis.

Setiap orang memiliki kemampuan untuk menulis! Kesuksesan tidak ditentukan oleh bakat alami; sebaliknya, kesuksesan lahir dari hasrat, semangat, dan komitmen untuk terus berlatih yang memungkinkan seseorang berkembang sebagai penulis. Pandangan ini dianut oleh banyak penulis ternama yang karya-karyanya telah mencapai status best-seller. Hal ini menunjukkan bahwa Anda pun dapat berkembang menjadi penulis yang hebat. Kendati demikian, jalan untuk menjadi seorang penulis tentu saja penuh tantangan; hal ini menuntut komitmen untuk terus belajar dan berlatih.

Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Pada dasarnya, kegiatan ini memungkinkan seseorang untuk menyampaikan gagasan, sudut pandang, perasaan, dan informasi dalam bentuk tertulis secara koheren dan sistematis. Pentingnya menulis tidak hanya terbatas pada lingkungan pendidikan, tetapi juga mencakup peran besar dalam berbagai bidang profesional. Kendati demikian, terlepas dari signifikansinya, sebagian orang sering kali menganggap menulis sebagai tugas yang menantang. Tantangan ini muncul bukan hanya akibat keterbatasan kosakata, melainkan juga karena kurangnya pemahaman mengenai hakikat serta prinsip-prinsip dasar penulisan.

Ketiga, Mengenal hakikat menulis.

Inti dari kegiatan menulis mencakup proses kreatif yang menuntut pemikiran kritis serta pemahaman mendalam mengenai struktur bahasa. Dalam konteks lain, konsep menulis berkaitan dengan teori dan prinsip yang mendasari kegiatan tersebut, termasuk berbagai jenis teks, kerangka komposisi, dan tujuan penulisan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pemahaman yang kuat terhadap dasar-dasar dan prinsip penulisan dapat meningkatkan kemampuan menulis seseorang; namun, pemahaman ini sering kali terabaikan dalam situasi pembelajaran yang sesungguhnya.

Menulis merupakan metode komunikasi verbal yang menggunakan karakter tertulis sebagai sarananya. Sebagai bentuk komunikasi, kegiatan menulis mencakup setidaknya empat komponen: (1) penulis, yang menyampaikan pesan; (2) pesan itu sendiri, yaitu isi yang disampaikan; (3) media atau format, yang terdiri dari simbol-simbol bahasa tulis seperti rangkaian huruf, kalimat, dan tanda baca; serta (4) penerima—atau audiens—yang menerima pesan yang disampaikan oleh penulis. Apa sajakah peran dan tujuan dari kegiatan menulis?

Menulis memiliki sejumlah fungsi dan tujuan berikut. 1). Fungsi personal, yaitu mengekspresikan pikiran, sikap, atau perasaan pelakunya, yang diungkapkan melalui misalnya surat atau buku. 2). Fungsi instrumental (direktif), yaitu mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain. 3). Fungsi interaksional, yaitu menjalin hubungan sosial. 4). Fungsi informatif, yaitu menyampaikan informasi, termasuk ilmu pengetahuan. 5). Fungsi heuristik, yaitu belajar atau memperoleh informasi. 6). Fungsi estetis, yaitu untuk mengungkapkan atau memenuhi rasa keindahan.

Graves (1978), salah seorang tokoh yang banyak melakukan penelitian tentang pembelajaran menulis, menyampaikan manfaat menulis sebagai berikut:

1). Menulis Mengembangkan Kecerdasan.

Para psikolinguistik menegaskan bahwa menulis merupakan tugas yang melibatkan berbagai aspek. Kompleksitas ini muncul dari perlunya menyelaraskan berbagai sisi tersebut: pemahaman akan topik; praktik penyusunan konten secara jelas dan mudah dipahami; persepsi serta kemampuan merangkai unsur-unsur bahasa menjadi tulisan yang dapat dimengerti; dan kemampuan menghasilkan teks yang mematuhi norma atau standar yang berlaku.

Untuk mencapai hal tersebut, seorang calon penulis—antara lain—perlu memiliki kesiapan dan kemampuan untuk: a. menyimak, mengamati, dan membaca secara efektif; b. memilah, memilih, mengolah, menyusun, dan menyimpan informasi yang telah dikumpulkan secara kritis dan sistematis; c. menelaah topik dari berbagai sudut pandang; d. memperkirakan karakteristik dan kemampuan pembaca; serta e. menyusun tulisan secara logis, koheren, dan jelas.

Menurut Cunningham, dkk (1995) secara tegas menyatakan bahwa menulis adalah berpikir. Dalam menulis terdapat sembilan proses berpikir sebagai berikut.

1) Mengingat apa yang telah dipelajari, dialami, dan diketahui sebelumnya, yang tersimpan dalam rekaman ingatan seorang penulis berkenaan dengan apa yang ditulisnya.

2) Menghubungkan apa yang telah dipelajari, dialami, dan diketahui sebelumnya, yang berkaitan dengan sesuatu yang ditulis seseorang, sehingga berbagai informasi itu saling terkait satu sama lain dan membentuk satu keutuhan. Mengingat dan menghubungkan merupakan aktivitas berpikir yang tampaknya terjadi secara bersamaan. Otak kita biasanya mengingat pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki terlebih dahulu. Baru kemudian menghubungkan pengetahuan dan pengalaman baru yang diperoleh dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah ada.

3) Mengorganisasikan informasi/pengetahuan yang dimiliki sehingga mempermudah penulis untuk mengingat dan menatanya dalam menulis.

4) Membayangkan ciri atau karakter dari apa yang telah diketahui dan dialami sehingga tulisan menjadi lebih hidup.

5) Memprediksi atau meramalkan bagian tulisan selanjutnya, ketika menyusun bagian tulisan sebelumnya. Perilaku berpikir ini akan menjadikan tulisan yang dihasilkan mengalir dengan lancar, runtut, dan logis.

6) Memonitor atau memantau ketepatan tataan dan kaitan antarsatu bagian tulisan dengan bagian tulisan lainnya.

7) Menggeneralisasikan bagian demi bagian informasi yang ditulis ke dalam sebuah kesimpulan.

8) Menerapkan informasi atau sebuah kesimpulan yang telah disusun ke dalam konteks yang baru.

9) Mengevaluasi apakah seluruh informasi yang diperlukan dalam tulisan telah cukup memadai, memiliki hubungan yang erat satu sama lain sehingga membentuk satu kesatuan tulisan yang sistematis dan logis, serta dikemas dalam penataan dan pembahasaan yang mudah dipahami dan menarik.

2. Menulis menumbuhkan inisiatif dan kreativitas.

Dalam kegiatan menulis, sangat penting untuk mempersiapkan dan menyediakan sendiri seluruh komponennya: materi isi, pertanyaan dan tanggapan, elemen visual, pemilihan kata, serta format keseluruhannya. Agar tulisan menjadi memikat dan nyaman dibaca, materi harus disusun secara rasional dan sistematis, serta dikemas sedemikian rupa agar tidak terkesan monoton.

Menghasilkan tulisan semacam ini menuntut tingkat kreativitas dan inisiatif yang tinggi dari penulis. Penulis harus secara mandiri mencari, menemukan, dan mengorganisasi informasi dari berbagai sumber yang relevan dengan topik bahasannya. Mereka perlu melakukan riset, menelaah, dan menyeleksi sumber-sumber tersebut sembari menyusun informasi yang telah terkumpul. Mereka juga perlu menciptakan atau mencari contoh serta ilustrasi yang dapat memperjelas sekaligus menambah daya tarik tulisan. Selain itu, pemilihan format bahasa dan diksi yang paling tepat harus dilakukan demi menyampaikan pesan yang dimaksudkan secara efektif. Mereka perlu terus bereksperimen dengan berbagai metode untuk menemukan cara terbaik dalam membuka dan menutup tulisan. Melakukan beragam aktivitas ini secara rutin niscaya akan mendorong pengembangan serta peningkatan inisiatif dan kreativitas penulis.

3. Menulis Menumbuhkan Kepercayaan Diri dan Keberanian.

Menulis membutuhkan keberanian. Betulkah? Menulis ibarat mengemudi kendaraan. Orang yang telah mengetahui seluk beluk mengemudi mobil, bahkan sudah memiliki SIM, tidak serta merta ia dapat mengemudikan mobil. Ia perlu keberanian dan menepis berbagai kekhawatiran, seperti khawatir salah menginjak gas, menyerempet atau menabrak orang atau kendaraan lain mati mesin mendadak di tengah jalan.

Hal yang sama terjadi dalam menulis. Begitu banyak kekhawatiran dan bayangan buruk menghinggapi pikiran orang dalam menulis. Misalnya, malu jika hasilnya jelek, khawatir salah menyampaikan sehingga dapat menyinggung orang lain, takut tulisannya ditertawakan orang, dan berbagai macam kecemasan lainnya. Sobat, menulis memerlukan keberanian. Ia harus berani menampilkan pemikirannya, termasuk perasaan, cara pikir, dan gaya tulis, serta menawarkannya kepada orang lain. Konsekuensinya, dia harus memiliki kesiapan dan kesanggupan untuk melihat dengan jernih segenap penilaian dan tanggapan apa pun dari pembacanya, baik yang bersifat positif maupun negatif. Penilaian atau tanggapan dari orang lain justru merupakan masukan atau pupuk bagi penulis untuk dapat memperbaiki kemampuannya dalam menulis.

4. Menulis Mendorong Kemampuan dalam Menemukan.

Banyak orang mengalami kesulitan dalam menulis karena kurangnya kejelasan mengenai apa yang ingin mereka sampaikan. Mereka tidak memiliki informasi yang memadai tentang topik tersebut dan merasa enggan untuk mencari rincian yang diperlukan. Pada awalnya, seseorang mulai menulis karena memiliki gagasan, pemikiran, sudut pandang, atau sesuatu yang dianggap cukup penting untuk dibagikan kepada orang lain. Namun, sering kali mereka tidak memiliki rincian yang cukup mengenai materi tulisan tersebut. Situasi ini mendorong penulis untuk mencari, mengumpulkan, memahami, dan menelaah rincian yang diperlukan dari berbagai sumber.

Sumber-sumber tersebut dapat berupa: (a) materi tertulis (buku, artikel, jurnal, makalah penelitian, atau data statistik dari media cetak maupun daring), yang datanya diperoleh melalui kegiatan membaca; (b) konten audiovisual, yang informasinya didapatkan dengan cara menonton dan/atau mendengarkan; (c) narasumber, yang datanya dikumpulkan melalui percakapan, tanya jawab, atau wawancara; serta (d) alam sekitar, yang informasinya diperoleh melalui pengamatan.

Dengan demikian, kemampuan memanfaatkan aspek mekanis bahasa merupakan hal yang sangat penting dalam mengembangkan budaya menulis. Tentu saja, menyusun sebuah tulisan menuntut kemampuan untuk menggunakan dan menata komponen-komponen bahasa secara akurat.

Seorang penulis perlu memilih dan menggunakan kata secara tepat, menyusun kalimat dan paragraf secara efisien, menerapkan ejaan dan tanda baca yang benar, serta menggunakan gaya komunikasi yang sesuai. Namun, menulis mencakup lebih dari sekadar elemen-elemen teknis tersebut. Sebuah tulisan harus mampu menyampaikan makna atau pesan kepada pembaca—baik melalui gagasan, emosi, pemikiran, maupun perincian mengenai topik yang dibahas. Dalam konteks ini, aspek mekanis dan kebahasaan tulisan hanyalah sarana untuk menata dan menyampaikan isi tulisan, guna memastikan bahwa pesan tersebut dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca.

Anda, pembaca tulisan ini, adalah seorang penulis yang siap untuk berkembang menjadi penulis kreatif—sebuah perjalanan yang bermula di desa tempat Anda dibesarkan, saat Anda pertama kali mulai menggoreskan tulisan di tanah halaman rumah Anda. ***

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT