Shalat Kebutuhan Orang Modern

Shalat Kebutuhan Orang Modern

Oleh: Dr. H. Muhammad Nasir, S.Ag.. M.H., Kakan Kemenag Anambas

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah;153).

Kehidupan modern terus berubah, ditandai dengan fokus pada kekayaan materi dan kesenangan, di mana kepemilikan barang fisik menjadi tolok ukur kebahagiaan. Masyarakat kontemporer pada dasarnya mengadopsi dan mengikuti kerangka yang berorientasi pada konsumsi, didorong oleh pencarian laba, mengejar kesenangan, serta bersifat egosentris. Selain itu, gaya hidup ini dicirikan oleh individualisme, pola pikir yang terbuka, kegemaran akan kemewahan, mobilitas yang tinggi, serta munculnya stratifikasi sosial atau pengelompokan orang di dalam masyarakat.

Berbagai persyaratan yang harus dipenuhi memberikan pengaruh yang signifikan, baik terhadap individu maupun kelompok sosial. Seseorang terdorong untuk berusaha lebih keras demi mencapai status sosial yang mereka inginkan. Akan tetapi, hal ini juga dapat menimbulkan dampak negatif; kategorisasi yang melekat pada status sosial dapat mendorong seseorang untuk menempuh berbagai cara—dengan menghalalkan segala macam cara—demi meraih status yang diidamkan. Di tengah tuntutan hidup yang kompleks, orang modern sering kali kesulitan untuk menjaga diri, yang pada akhirnya membuat banyak orang terus-menerus diliputi kecemasan yang berakibat kepada rendahnya nilai-nilai kepribadian.

Selain itu, kecemasan sering kali menimbulkan kebingungan, ketidakpastian, stres, dan konflik lainnya—seperti yang berkaitan dengan pengambilan keputusan mengenai tujuan pribadi. Kecemasan dapat muncul akibat berbagai faktor, baik yang bersifat internal (berasal dari dalam diri seseorang) maupun eksternal (berasal dari luar diri seseorang) (Crenata, 2019).

Pada akhirnya, kecemasan ini dapat berkembang menjadi konflik batin, yang ditandai dengan meningkatnya rasa kecewa terhadap diri sendiri—suatu kondisi yang kian sulit untuk diatasi karena kenyataan hidup seseorang tidak selaras dengan aspirasi maupun harapannya.

Ciri lain orang modern ditandai dengan kesibukan yang padat, ditambah dengan adanya intensitas yang tinggi penggunaan aneka perangkat media dan teknologi internet, kondisi ini menghadirkan kebisingan bagi pikiran, distraksi, dan arus informasi yang tiada henti sepanjang hari. Akibat dari hal ini, mereka seringkali kehilangan kesempatan untuk benar-benar hadir seutuhnya dalam apa yang sedang mereka kerjakan, moment by moment (dari saat ke saat). Mereka sibuk dengan internet dan ponsel masing-masing sehingga merenggangkan jarak sosial dalam kesehariannya.

Dr. Lee Hadlington (2015) dari De Montfort University Leicester menemukan bahwa peningkatan interaksi dengan internet atau ponsel menyebabkan individu lebih rentan mengalami 'kegagalan kognitif'. Kegagalan kognitif ini mencakup tindakan melakukan kesalahan fatal serta menunjukkan sikap tidak peka terhadap orang-orang di sekitar. Pengguna internet dan ponsel yang sangat aktif bisa jadi secara tiba-tiba lupa akan alasan mereka mendatangi suatu tempat tertentu. Nah, sebenarnya apa yang dicari oleh orang modern itu?

Mengingat betapa rumitnya kehidupan modern, Islam tetap relevan di sepanjang zaman. Islam menawarkan solusi bagi kebutuhan dasar manusia—sebuah sarana untuk terlepas dari kekhawatiran dan keraguan yang kerap muncul dalam perjalanan hidup. Kebutuhan mendasar ini adalah shalat. Ibadah shalat menjadi jawaban yang sangat efektif dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup orang modern. Dalam konteks ini, konsep mindfulness—suatu kondisi kesadaran penuh—yang dapat diperoleh melalui sholat. Hal ini ibarat oase yang ditemukan oleh seorang pengembara di tengah gurun; ia memungkinkan seseorang untuk kembali memperoleh kesadaran diri sepenuhnya serta menikmati setiap momen dengan perhatian yang utuh dan sadar.

Beberapa strategi cerdas yang dapat membantu agar shalat menjadi kebutuhan vital bagi masyarakat modern—sebuah sarana untuk terhubung kembali dan memperkuat kesadaran diri yang tidak stabil sebagai berikut:

Pertama, Memperkuat Motivasi Ketulusan Niat (Motivation of Sincere Intent).

Motivasi yang lahir dari niat tulus berfungsi sebagai katalisator yang memperkuat dedikasi seseorang dalam shalat, tanpa adanya pamrih. Ketulusan niat dalam shalat mencerminkan kerendahan hati seorang hamba dalam pengabdiannya. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman: “Ketahuilah bahwa Aku akan menerima shalat orang-orang yang merendahkan hati karena menyaksikan keagungan-Ku, orang yang tidak menyombongkan diri kepada-Ku, dan orang yang memberi makan kepada orang miskin yang lapar demi mengharap keridhan-Ku (Hadits Qudsi).

Terdapat berbagai motivasi atau alasan untuk melakukan shalat, yang masing-masing bersumber dari perasaan tertentu—ada yang didorong oleh rasa takut akan dosa atau hukuman, sementara yang lain termotivasi oleh harapan akan berkah ilahi atau jalan menuju surga. Perasaan semacam apa pun itu sepenuhnya sah, selama hal tersebut menjadi pemicu bagi seseorang untuk melakukan shalat. Di antara berbagai perasaan yang mendasari ini, salah satu yang secara khusus dianjurkan oleh Nabi Muhammad adalah rasa syukur. Rasa syukur merupakan emosi yang perlu dipupuk; dengan menumbuhkan motivasi yang tulus dan mendalam kepada Allah, seseorang akan mulai merasakan kekayaan batin yang luar biasa.

Dengan cara tersebut, kesedihan akan berubah menjadi sukacita, kelemahan berganti menjadi kekuatan, ketidaktahuan berkembang menjadi pengetahuan, rasa sakit berubah menjadi penghiburan, dan sesuatu yang tadinya tampak suram mulai menampakkan keindahan sejatinya. Rasa syukur adalah perasaan yang luar biasa—sebuah emosi yang mendorong pikiran untuk secara proaktif dan positif memupuk serta meningkatkan aspek-aspek tertentu yang disyukuri oleh seseorang. Sholat yang dilakukan karena sebagai ungkapan rasa syukur akan melekatkan hati pada Allah Sang Pemberi nikmat.

Meskipun demikian, alasan paling kuat untuk memiliki niat yang tulus adalah demi mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Untuk meraih rida Allah SWT, seseorang harus memenuhi sejumlah ketentuan kesucian—baik yang berkaitan dengan hadas besar maupun hadas kecil—sebelum melaksanakan salat. Ketentuan tersebut meliputi kesucian diri melalui wudu’, kebersihan pakaian, kebersihan tempat salat, menutup aurat, menghadap kiblat, menaati waktu salat, serta berdiri saat salat (kecuali bagi mereka yang diperbolehkan duduk menurut syariat Islam).

Shalat merupakan bentuk ibadah utama dalam Islam. Melalui shalat, seseorang dapat menjalin komunikasi dan terhubung dengan Allah (SWT). Shalat adalah bentuk pengabdian pertama yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah (SWT) saat seluruh amal perbuatan seseorang dinilai di akhirat kelak.

Shalat merupakan upaya untuk mencari makna dan pengalaman bathin yang mendalam melalui perjumpaan dengan Sang Ilahi, Allah (SWT). Perjalanan ini melibatkan komunikasi spiritual; oleh karena itu, agar komunikasi tersebut bermakna dan sah, ia harus memenuhi ketentuan (syarat) dan unsur-unsur pokok (rukun) shalat—yang mencakup kriteria fiqhiyyah (aspek hukum/yurisprudensi) maupun kriteria ilmiyyah (aspek keilmuan). Ketentuan fiqhiyyah menetapkan bahwa shalat harus selaras dengan prinsip-prinsip syariat yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, sementara ketentuan ilmiyyah menekankan pada pemahaman serta pelaksanaan tata cara yang dicontohkan oleh Rasulullah (SWT)—sebagaimana tersirat dalam sabda beliau: "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat."

Shalat merupakan sarana interaksi langsung dengan Allah (SWT). Seorang mukmin diharapkan memiliki kecerdasan komunikatif dalam shalat, selaras dengan prinsip-prinsip yang telah diuraikan sebelumnya. Kecerdasan komunikatif dalam shalat sangatlah penting untuk mencapai khusyu’ (kesadaran yang tinggi). Banyak di antara kita yang menunaikan shalat, namun sering kali kesulitan untuk mencapai tingkat khusyu’ tersebut. Sesungguhnya, khusyu’ dalam salat merupakan esensi bagi seluruh bentuk ibadah; ketika shalat benar-benar dilaksanakan dengan khusyu’, maka ibadah-ibadah lainnya pun akan selaras dan mencerminkan standar tertinggi ini. Shalat yang khusyu’ adalah salat yang berkualitas di mana seorang mukmin meresapi secara mendalam keagungan, kemuliaan, dan kebesaran Allah (SWT). Dalam momen-momen tersebut, seorang hamba merasakan keagungan Zat-Nya melalui kehadiran-Nya selama shalat berlangsung.

Kondisi khusyu’ adalah kondisi kesadaran yang mindful (kesadaran penuh). Dengan demikian seorang yang melatih dirinya shalat dengan khusyu’ pada saat yang sama dia merasakan mindfulness dengan Tuhan sebagai objek fokusnya. Gerakan shalat yang khusyu’ dicirikan juga dengan tuma’ninah (keadaan tenang, berhenti, dan tidak bergerak sejenak setelah melakukan suatu gerakan shalat sampai seluruh anggota badan diam pada tempatnya). Shalat khusyu’ dapat menggetarkan hati melalui bacaan-bacaan dan ayat-ayat dalam bermunajat dengan Tuhan ketika shalat. Jika tidak, maka tidak dapat disebut berdialog/berkomunikasi dengan Tuhan. Sebab itu motivasi ketulusan niat sangat menentukan dalam merasakan nikmatnya shalat.

Kedua, Pemahaman mendalam (in-depth understanding) tentang Shalat

Dalam Islam menekankan pentingnya pemahaman mendalam tentang shalat. Tidak hanya dalam hal mengenai tata cara pelaksanaan shalat secara fiqiyah / syari’ah tetapi juga secara tariqat, haqiqat dan ma’rifat berdasarkan tuntunan Islam. Untuk terpenuhinya ketentuan tersebut dibutuhkan pemahaman mendalam tentang shalat. Pemahaman mendalam tentang shalat dapat mendorong kesadaran religius, memperkuat keimanan, dan membiasakan melaksanakan shalat dengan benar.

yekh Abdul Qadir al-Jailani (2004) —seorang tokoh Sufi terkemuka sekaligus figur sentral dalam tarekat Qadiriyyah—dikenal luas sebagai ulama yang memadukan syariat (hukum Islam) dan tarekat (jalan spiritual Sufi). Sintesis ini lahir dari perkembangan intelektualnya yang berakar kuat pada pengkajian syariat, yang kemudian diperkaya oleh hikmah spiritual di bawah bimbingan Syekh Abu Sa’id al-Makhzumi—seorang ulama yang dikenal luas karena kesalehannya yang tinggi pada masa itu. Pengaruh ini tampak jelas dalam penjelasannya mengenai salat, yang ia sebut sebagai mi’raj (kenaikan spiritual) bagi orang yang beriman.

Shalat yang sungguh-sungguh mi’raj - naik menuju ke-Esaan Tuhan dan tetap terjaga hingga malam kelam (syahwat) menyingkapkan misteri keabadian yang kekal. Hal ini dapat dicapai dengan mudah begitu kita berhasil meredam hasrat-hasrat sifat kemanusiaan, serta mewujudkannya melalui penerapan etika yang baik demi membangun hubungan yang terpuji.

Mereka yang memiliki pemahaman mendalam tentang salat akan dibimbing oleh Allah SWT—bahkan di tengah tuntutan hidup sehari-hari yang rumit dan berat—untuk senantiasa mengingat nama-Nya dan beribadah kepada-Nya dengan penuh kesetiaan. Hal ini menunjukkan bahwa, dengan memahami hakikat salat, seorang Muslim meyakini dalam hatinya bahwa Allah senantiasa dekat dan bahwa tujuan tertingginya adalah meraih rida-Nya. Dengan demikian, meskipun pikiran mungkin sedang disibukkan oleh berbagai urusan duniawi, kesadaran akan kehadiran Allah—serta pemahaman bahwa Tuhan Yang Maha Melihat senantiasa mengawasi—tetap hidup di dalam hati. Hal ini mencakup pula saat seseorang menghadapi kesulitan; keyakinan bahwa Allah adalah Penolong Yang Maha Agung akan senantiasa terjaga. Dalam situasi seperti inilah, salat menjadi sarana bagi seorang Muslim untuk memohon pertolongan kepada Sang Pencipta.

Pemahaman mendalam mengenai shalat menumbuhkan kesadaran penuh yang memengaruhi setiap aspek kehidupan. Meskipun shalat merupakan ritual khusus, ia berfungsi sebagai fondasi bagi seluruh kerangka keyakinan seseorang. Ketika shalat dilaksanakan dengan penuh kesadaran—dan kesadaran ini meluas ke ranah kehidupan lainnya, termasuk aspek sosial, intelektual, maupun profesional—kualitas dari aspek-aspek tersebut pun akan meningkat.

Terlebih lagi, jika muncul kesulitan yang berat dalam kehidupan—seperti dalam interaksi sosial—permasalahan tersebut dapat disertakan ke dalam doa seseorang dalam shalatnya. Dengan demikian, shalat dan berbagai bentuk ibadah lainnya menjelma menjadi satu kesatuan yang utuh; seluruh niat dipusatkan kepada Allah, Zat yang menjadi tumpuan bagi segala sesuatu.

Oleh karena itu, setiap momen menjadi hidup, dipenuhi dengan kesadaran, dan memiliki makna yang mendalam bagi seorang Muslim yang menunaikan shalat dengan pemahaman yang mendalam. Pemahaman ini berfungsi sebagai penghubung antara shalat dan pekerjaan. Pada intinya, shalat merupakan bentuk upaya batin, sementara pekerjaan pada dasarnya adalah perwujudan dari doa yang dipanjatkan melalui tindakan nyata.

Ketiga, Mencontoh (exemplary model) Shalat Rasulullah SAW

Banyak orang bertanya: seperti apakah shalat Rasulullah SAW? Bukankah selama ini kita telah melaksanakan shalat dengan cara yang diajarkan oleh Rasulullah? Pertanyaan ini tidaklah keliru; namun, salat Rasulullah—yang menjadi tujuan bagi setiap orang beriman—bisa tampak berbeda, bergantung pada kedalaman perjalanan spiritual masing-masing individu. Pada hakikatnya, mustahil bagi kita untuk memahami sepenuhnya pengalaman spiritual yang dialami oleh Rasulullah saat beliau menunaikan shalat. Tetapi setidaknya kita telah berusaha mempelajari dan menggali substansi tatacara shalat dengan baik.

Shalat menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Bentuk ibadah ini bukan sekadar sebuah kewajiban, melainkan juga sarana untuk menjalin hubungan yang lebih erat dan dekat dengan Allah SWT serta mengembangkan karakter spiritual dan etis seseorang (Achadah & Nur Faizah, 2021). Dalam pelaksanaannya, shalat mengikuti tata cara—atau kaifiyyah—tertentu yang ditetapkan berdasarkan ajaran dalam Al-Qur'an dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Tentu saja hal ini menggambarkan konsep shalat sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Shalat Rasulullah SAW merupakan suatu amalan yang dilaksanakan selaras dengan standar Syariat, Tarekat, Makrifat, dan Hakikat. Praktik salat semacam ini terus dikembangkan dan dilatih sedemikian rupa sehingga hati menjadi dekat dan tersambung dengan Allah melalui ungkapan, perbuatan, dan penghayatan batin. Shalat merupakan kewajiban inti bagi manusia yang dilakukan setiap hari (shalat wajib) secara konsisten (istiqamah).

Pada suatu kesempatan, Rasulullah SAW memperlihatkan tata cara shalat yang benar saat beliau berada di atas mimbar. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa mimbar Nabi SAW terdiri dari tiga tingkat. Sahal bin Sa’d menuturkan bahwa ketika ia sedang bersama seorang sahabat dari kalangan Anshar, Nabi SAW memintanya untuk keluar dari masjid, mengambil sebuah mimbar yang terletak di luar, lalu membawanya masuk ke dalam Masjid Nabawi (Masjid al-Nabawi).

Mengenai sosok yang membuat mimbar ini, terdapat tujuh pendapat yang berbeda.

Pendapat pertama menyebutkan orang tersebut adalah Ibrahim, pendapat berikutnya menyebutkan Mauhidah, kemudian Subbah, lalu Qabisah al-Makhzumi; yang kelima adalah Kilab—beserta pelayannya, 'Abbas—; yang keenam adalah Tamim al-Dari, yang pernah menyampaikan kepada Rasulullah SAW niatnya untuk membuat mimbar setelah melihat mimbar serupa di Syam—usulan yang kemudian disetujui setelah bermusyawarah dengan kaum Muslimin, di mana 'Abbas bin 'Abdul Muttalib yang turut hadir dalam diskusi tersebut juga memberikan persetujuannya—; dan yang ketujuh adalah Mina', seorang pemuda dari kalangan Ansar dari Bani Salamah. Pendapat keenam tampaknya merupakan pendapat yang paling dapat diterima (Al-'Asqalani, 1987).

Saat berada di atas mimbar, beliau berdiri lalu melafalkan takbir, yang kemudian disambut oleh orang-orang di belakangnya sementara beliau tetap berada di atas mimbar. Beliau juga sempat bersujud di atas mimbar. Beliau bangkit dari rukuk, lalu bergerak mundur hingga bersujud di kaki mimbar. Setelah itu, beliau kembali ke atas mimbar dan mengulangi apa yang telah beliau lakukan pada rakaat pertama hingga menyelesaikan shalat. Kemudian, beliau menghadap ke arah jemaah dan bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku melakukan ini agar kalian dapat meneladani dan memahami tata cara salatku." (Al-'Asqalani, 1987: 290, hadis No. 917).

Begitu penting dan urgensinya shalat Rasulullah saw, langsung mencontohkan (exemplary model) di hadapan para sahabat ketika itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa shalat adalah ibadah yang sangat sentral dalam islam. Sebab ia menjadi kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, termasuk kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia, sebagaimana yang diharapkan untuk mewujudkan manusia seutuhnya. Shalat merupakan asupan bernutrisi bagi ruh, di mana ketika seorang hamba bermunajat kepada Tuhannya melalui shalat, hatinya akan semakin terang dan dadanya pun semakin lapang (M Abdullah, 2006: 72).

Terlebih lagi, shalat—bersama dengan kesabaran—akan berfungsi sebagai sarana penting bagi seorang Muslim untuk menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan, sehingga mencegah rasa tidak nyaman yang berkembang menjadi tekanan yang berkepanjangan (Surah Al-Baqarah: 153).

Shalat menanamkan ketenangan dalam jiwa dengan memupuk perasaan akan kedekatan yang berkelanjutan dengan Allah SWT; sesungguhnya, shalat merupakan salah satu bentuk zikir (mengingat Allah), dan mengingat Allah yang akan mendatangkan kedamaian batin (Surah Ar-Ra’d: 28). Jadi, shalat yang efektif (khusu’) merupakan kebutuhan esensial bagi manusia modern, sekaligus memberikan solusi atas kecemasan dan pergulatan batin yang kerap dipicu oleh ke-tidak-nyamanan hidup yang terus berubah-ubah dalam masyarakat modern saat ini. 

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT