Santri dan Peradaban Masa Depan
Oleh: Dr. H. Muhammad Nasir, S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Anambas
Peringatan Hari Santri tahun 2026 diselenggarakan pada 22 Oktober 2026 dengan mengusung tema: "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Tema ini sangat menggugah semangat dan menyampaikan pesan moral yang penting, terutama jika ditinjau dalam konteks arus globalisasi yang begitu cepat saat ini. Lanskap dunia—sebagai ruang bersama bagi eksistensi manusia dan upaya kolektif—dipengaruhi oleh beragam masyarakat dan budaya, serta terus berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.Kendati demikian, santri sering kali dipandang memiliki keterbatasan dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh globalisasi. Padahal, sosok santri melampaui sekadar label yang didasarkan pada definisi tradisional—yang hanya merujuk pada individu yang tinggal di pesantren untuk mempelajari agama; mereka adalah insan yang dijiwai oleh spirit of science yang mampu memengaruhi arah perjalanan bangsa di masa depan. Oleh karena itu, kini saatnya bagi mereka untuk menunjukkan peran penting mereka yang sesungguhnya.Dalam pengertian klasik, seperti yang dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), seorang santri dipahami sebagai individu yang mempelajari Islam secara mendalam, menjalankan keyakinannya dengan kesungguhan, dan menjalani kehidupan yang saleh (KBBI, 2025). Mereka adalah orang-orang yang mendalami hukum Islam melalui kajian agama, sering bepergian ke tempat yang jauh—seperti pesantren—untuk menimba ilmu dari para ustadz. Seorang santri adalah individu yang mempelajari ilmu-ilmu dari kitab suci (Al-Quran dan Hadits) dan kitab klasik (kitab kuning) secara mendalam. Ilmu yang mereka peroleh menjadi bekal pengetahuan untuk dipahami, diajarkan dan di amalkan dalam aktivitas sehari-hari.Dengan demikian secara formal santri yang dimaksud adalah seseorang yang menempuh pendidikan dan pembelajaran di bawah bimbingan seorang kyai di sebuah pondok pesantren. Mereka mendalami ilmu dan bimbingan—khususnya terkait keimanan (terutama Islam)—serta bidang-bidang lain yang diperlukan untuk meraih keberhasilan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Mereka adalah individu yang memahami dan mengamalkan ajaran Islam, serta berupaya menyebarluaskannya di tengah masyarakat sebagai wujud pengabdian kepada Allah dan saling membawa kebaikan antar sesama dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.Indonesia Emas mencerminkan harapan generasi penerus bangsa untuk mewujudkan era peradaban baru. "Indonesia Emas 2045" merepresentasikan tujuan ambisius negara untuk bertransformasi menjadi negara maju pada tahun 2045. Visi ini bukan sekadar impian, melainkan tujuan mulia yang harus dicapai melalui upaya dan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, termasuk para santri sebagai generasi penerus. Santri memegang peranan penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Sebagai insan terpelajar, para santri diharapkan dapat berperan sebagai katalisator perubahan (catalyst for change) dan penggerak kemajuan bangsa (drivers of national progress). Mereka perlu mengembangkan diri melalui pendidikan berkualitas serta menguasai pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman, sembari tetap melestarikan nilai-nilai budaya bangsa yang luhur.Keterlibatan santri dalam mewujudkan "Indonesia Emas 2045" melampaui sekadar penguasaan literatur Islam tradisional (kitab kuning); hal ini mencakup pemahaman menyeluruh mengenai aspek sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Santri diharapkan dapat berpartisipasi dalam inisiatif masyarakat, tampil sebagai wirausahawan muda yang inovatif, terlibat dalam pengambilan keputusan, serta melestarikan budaya bangsa. Berbekal tekad dan dedikasi, santri di seluruh penjuru tanah air dapat berperan sebagai katalisator bagi kemajuan bangsa yang berkelanjutan dan inklusif. Mereka juga perlu mampu membangun jejaring dan aliansi dengan berbagai pemangku kepentingan—baik di tingkat lokal maupun global—guna mendukung kemajuan Indonesia di kancah dunia.Situasi global yang dihadapi generasi saat ini telah menyingkap keberadaan berbagai peradaban di seluruh penjuru dunia. Baik di Barat maupun di Timur keduanya berakar pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang melambangkan puncak peradaban manusia. Konsep peradaban—yang berasal dari istilah adab (mengisyaratkan kemajuan intelektual dan budaya, mencakup aspek batiniyah maupun lahiriah, serta tata krama/moralitas, kecanggihan, dan ciri khas budaya suatu masyarakat)—yang menjadi dasar bagi berkembang dan majunya peradaban sebuah bangsa.Sejarah menunjukkan bahwa peradaban kontemporer bermula di Barat (Eropa), membentang dari masa lampau hingga saat ini. Pembeda kontemporer ini menjadi nyata ketika peradaban Barat menjadikan ilmu pengetahuan sebagai landasan budayanya; hal ini mengisyaratkan bahwa suatu budaya atau peradaban muncul dan berkembang seiring dengan kemajuan gagasan-gagasan ilmiah di dalamnya (Hamid Fahmi Zarkasyi, 2013).Peradaban tersebut lahir dari kemajuan ilmu pengetahuan yang berakar pada lingkungan pesantren. Jadi salah satu kontributor utama bagi pertumbuhan intelektual adalah pondok pesantren, yang menjadi tempat tinggal bagi para santri yang memiliki semangat tinggi dalam belajar dan penguasaan teknologi. Dalam konteks ini, modernisasi pesantren telah menjadi topik pembahasan panjang dan nyata yang bertujuan mempersiapkan para santri agar mampu menghadapi tantangan transformasi global secara efektif.Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menghadirkan tantangan yang cukup besar, namun juga menawarkan peluang luar biasa untuk memajukan peradaban. Pesantren dan budaya santri memiliki keterkaitan erat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan memengaruhi masa depan peradaban.Sejumlah inisiatif yang dikembangkan dalam budaya santri demi mewujudkan masyarakat masa depan yang berbasis ilmu pengetahuan antara lain:Pertama: Membangun digital culture dalam kiprah santriMembangun digital culture merupakan langkah strategis untuk menjamin bahwa teknologi digital tidak sekadar digunakan, tetapi juga diperkaya dengan konten Islami. Apatah lagi digitalisasi kini telah merambah ke seluruh lapisan masyarakat dan berdampak pada siapa saja, mulai dari penduduk kota hingga masyarakat pedesaan. Digitalisasi menuntut lebih dari sekadar penggunaan; ia memerlukan inisiatif untuk menanamkan nilai-nilai positif dan mengedepankan kemaslahatan bersama. Meskipun dakwah agama sebelumnya terbatas pada media dan ruang publik tertentu, kini kegiatan tersebut dapat berlangsung dalam skala yang lebih luas melalui platform digital. Konten dasar dan ulasan bernuansa bijak dibagikan untuk merespons materi yang berpotensi merugikan generasi muda masa kini.Para santri berperan sebagai penggerak yang menjaga prinsip-prinsip spiritual dan etika. Mereka menyampaikan pesan-pesan yang jelas dan inklusif yang mampu menyentuh hati individu—terutama mereka yang sedang mencari jati diri—sembari menangkal dominasi konten yang berbahaya. Yang terpenting, hal ini dicapai bukan melalui cara-cara agresif, melainkan melalui metode yang bijak, penuh kehati-hatian, dan santun sebagaimana diajarkan oleh Nabi, bahwa beliau sangat mencintai sikap arif dan bijaksana; “al-hanafiyyah al-samhah” (sikap yang lurus dan penuh toleransi).Santri memperoleh pengetahuan tidak hanya dari materi tekstual, tetapi juga dengan mengamati lingkungan sekitar mereka. Mereka tidak mengisolasi diri, melainkan mampu berbaur secara efektif dengan rekan-rekan sebaya maupun masyarakat luas. Selain menguasai literatur Islam tradisional (kitab kuning), santri juga perlu memiliki keterampilan praktis—seperti pertanian atau kerajinan tangan—sebagai bekal untuk berwirausaha.Santri yang berwawasan luas akan tampil sebagai inovator, sumber ilmu, dan penggerak perubahan. Berbekal pemahaman yang mereka miliki, mereka dapat berbagi wawasan dan kebaikan kepada sesama, sekaligus membuka peluang untuk meraih pahala spiritual. Dampak globalisasi juga menuntut perhatian mereka; oleh karena itu, di lingkungan pesantren modern, para santri tidak hanya mempelajari bahasa Arab, tetapi juga bahasa Inggris sebagai bahasa global.Kedua: Santri membangun peradaban cintaMeningkatnya perilaku kekerasan yang belakangan ini di kalangan pelajar, remaja dan kaum muda—perilaku yang melukai orang lain—mengindikasikan memudarnya rasa cinta dan welas asih di antara mereka. Tren ini tentu dapat mengancam pilar-pilar moralitas dan beradab, sehingga menjadikannya isu yang memerlukan perhatian serius di masa kini.Selain itu, krisis nilai yang tengah melanda dunia menuntut peninjauan kembali secara epistemologis dan aksiologis mengenai makna cinta dalam Islam. Dalam pandangan Islam, cinta bukan sekadar sentimen emosional, melainkan landasan moral bagi masyarakat yang adil dan berbudaya. Dalam konteks ini, pesantren memiliki kapasitas spiritual untuk mentransformasikan cinta menjadi fondasi moral bagi kehidupan bermasyarakat.Prinsip-prinsip mahabbah (cinta), ukhuwwah (persaudaraan), dan rahmah (kasih sayang)—sebagaimana ditekankan dalam karya-karya klasik seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din dan Bidayat al-Hidayah karya al-Ghazali—melampaui sekadar teks normatif; prinsip-prinsip tersebut merupakan nilai-nilai fundamental yang membentuk pribadi-pribadi penuh cinta dan kasih sayang.Di samping itu, dunia modern kini sedang berhadapan dengan krisis nilai global yang semakin dalam dan kompleks. Kemajuan teknologi digital telah mempercepat arus informasi secara luar biasa, namun di sisi lain memperlebar jurang empati antarindividu dan bangsa. Global village yang dijanjikan oleh globalisasi justru melahirkan paradoks keterhubungan—di mana manusia semakin dekat secara digital, tetapi semakin jauh secara emosional. Di tengah pusaran arus ideologis, sosial, dan ekonomi yang kian berpolarisasi, muncul gejala kehilangan orientasi nilai kemanusiaan yang sejati: manusia kehilangan arah cinta. Fenomena ini terlihat dalam meningkatnya kekerasan simbolik, intoleransi berbasis agama dan etnis, serta komersialisasi moral dalam ruang publik global.Di tengah krisis nilai ini, pesantren—lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia—tidak hanya berfungsi sebagai wadah penyampaian ilmu agama, tetapi juga sebagai benteng moral, sosial, dan budaya bagi bangsa. Sejak awal keberadaannya, pesantren telah memosisikan diri sebagai perantara budaya yang menghubungkan prinsip-prinsip Islam dengan konteks budaya setempat.Pesantren menjadi tempat bertemunya iman dan budaya, Islam dan identitas keindonesiaan, serta spiritualitas dan kemanusiaan secara harmonis. Secara tradisional, pesantren telah melahirkan generasi ulama, pejuang kemerdekaan, dan pemikir yang berperan penting dalam membentuk identitas nasional Indonesia yang bercirikan religiusitas sekaligus humanisme. Jauh sebelum munculnya dunia kontemporer, pesantren telah membangun peradaban yang berlandaskan kasih sayang; di dalamnya, para santri terbiasa dengan lingkungan yang penuh rasa cinta—baik antar sesama maupun antara hamba dan Sang Pencipta.Santri tidak hanya berperan sebagai pembelajar ajaran agama, tetapi juga sebagai katalisator perubahan etis yang menghidupkan kembali esensi cinta dan kasih sayang dalam konteks sosial dan kebangsaan. Di tengah era yang diwarnai oleh retorika yang memecah belah dan polarisasi, santri diharapkan dapat menjadi jembatan dialog, penggerak harmoni, dan penjaga etika masyarakat. Melalui ritual spiritual dan wawasan sosial yang mereka miliki, mereka mampu menampilkan wajah Islam yang damai, santun, dan penuh empati.Keberadaan santri dan pesantren dalam membangun "peradaban cinta" merupakan respons moral terhadap berbagai persoalan dunia. Para santri semestinya mencerminkan Islam yang tidak hanya bersifat rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi semesta alam) secara teoretis, tetapi juga dalam penerapannya di ranah sosial, politik, dan budaya. Dengan demikian, cinta dan kasih sayang tidak lagi terbatas pada diskursus spiritual semata, melainkan berkembang menjadi prinsip peradaban—prinsip yang menolak kekerasan, menjunjung tinggi keadilan, dan merawat persatuan umat manusia. Melalui reposisi ini, para santri dapat menegaskan kembali perannya sebagai aktor peradaban cinta di tengah komunitas global dengan bertransformasi dari sekadar menara gading akademis menjadi sumber pancaran kasih sayang bagi kehidupan bangsa dan dunia.Para santri hadir sebagai oase moral dan spiritual. Mereka tidak hanya sebagai insan yang belajar dalam lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga ruang kultural yang mengajarkan madaniyyah al-mahabbah—peradaban cinta. Sebab dalam Islam, cinta (mahabbah) bukan sekadar emosi individual, melainkan energi transenden yang menggerakkan amal dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan. KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menegaskan: “Santri sejati bukan yang paling pandai membaca kitab, tetapi yang paling tulus mencintai sesama makhluk Allah. Ungkapan ini bukan retorika spiritual, melainkan manifestasi etika santri yang mengintegrasikan ilmu, akhlak, dan kasih sayang.Ketiga: Santri solutif dan moderat dalam membangun negeriSantri solutif dan moderat adalah tipikal ulama yang lahir sebagai sumber literasi. Mereka memiliki wawasan keilmuan yang mendalam yang memiliki literasi yang cukup dengan berbagai sumber pengetahuan yang memadai. Mereka memiliki daya kritis terhadap berbagai permasalahan sosial dan serta menjadi bagian dari solusinya. Santri bukan hanya bisa membaca dan menelaah kitab-kitab karya para ulama besar, tetapi juga mampu menuliskan ide-idenya untuk dibaca oleh masyarakat.Lebih kurang satu abad lamanya terjadi proses penerjemahan pengetahuan dalam bahasa Yunani, bahasa Ibrani, bahasa Persia dan bahasa-bahasa India ke dalam bahasa Arab, sebagai bentuk solutif dalam memperkaya khazanah keilmuan. Selain kegiatan penerjemahan, para ilmuwan muslim berusaha mengadakan adaptasi terhadap ilmu pengetahuan asing itu dan menyusun kitab sendiri, terutama setelah masa terjemahan. Kegiatan penulisan ilmu-ilmu umum berlangsung sampai abad ke 11. Sangat ironi bahwa sesudah abad ke 11, karya-karya terjemahan dalam bahasa arab itu diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin dan bahasa ibrani. Maka jadilah ilmu pengetahuan yang semula merupakan kekayaan intelektual sangat berharga milik umat muslim di bawa ke barat” (Ibrahim: 2017).Santri solutif dan moderat mampu memilah dan memilih sebuah informasi dengan baik (informasi yang bernilai moral dan etika), sehingga dapat menunjukan kebenaran dan menyebar luaskannya, sehingga informasi yang kita dapatkan akan bermanfaat pada diri kita dan orang lain, begitulah sebuah akhlak mulia yang diajarkan baginda Rasulullah, “sebaik-baiknya manusia adalah yang paling baik akhlaknya dan paling bermanfaat bagi orang lain.Hadits ini menjadi konsep kesadaran Santri yang melahirkan gagasan produktif dan dinamis yang merupakan manifestasi dari kajian teoritisnya, perenungan, dan pengalaman beliau di dunia modern. Kesadaran Santri dimaksud diantaranya adalah kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan bentuk kesadaran cinta tanah air. Hal ini dimungkinkan menjadi bukti bahwa santri memiliki rasa nasionalisme yang tinggi terhadap bangsanya sendiri.Saat ini kita sedang mengalami masa pergolakan—sebuah fase yang mengubah cara manusia berinteraksi—yang oleh Rhenald Kasali (1980) disebut sebagai "The Great Shifting" (Pergeseran Besar). Seiring beralihnya aktivitas manusia ke dunia onlene, psikologi telah bertransformasi menjadi psikologi siber (cyber-psychology). Pengaruh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi terhadap eksistensi manusia begitu signifikan hingga peradaban manusia mulai menghadapi berbagai ancaman.Gagasan mengenai nilai dan etika dalam peradaban terus berubah seiring dengan tuntutan zaman; hal ini terjadi akibat tidak adanya nilai-nilai mutlak yang bersumber pada wahyu autentik—seperti Al-Qur'an dan Hadis—yang menjadi pedoman hidup serta tolok ukur moral bagi masyarakat Muslim hingga saat ini, selalu diabaikan sehingga ranah intelektual lebih rumit dibandingkan abad-abad sebelumnya.Sejumlah faktor mendasar turut berperan dalam hal ini sebutlah umpamanya kemajuan negara adidaya Amerika dan Rusia sama-sama memberikan pengaruh signifikan terhadap diskursus intelektual, Eropa semakin mengakui keberadaan filsafat India, baik yang kuno maupun kontemporer, produksi industri telah mengubah tatanan masyarakat secara drastis dan munculnya gerakan perlawanan ekstrem—baik yang bersifat filosofis maupun politis—yang menentang sistem pemikiran, pemerintahan, dan ekonomi yang telah mapan.Selain faktor-faktor yang telah disebutkan, perkembangan gagasan dan masyarakat di dunia Islam ditandai dengan pesatnya perluasan lembaga pendidikan pesantren yang berfungsi sebagai pusat ilmu pengetahuan; lembaga ini bermula pada masa Bani Umayyah, mencapai puncaknya di era Abbasiyah, serta terus bertahan berkat dukungan berbagai dinasti di wilayah seperti Cordoba (Andalusia), Afrika Utara, Turki, dan India. Lembaga-lembaga pendidikan ini hadir sebagai wadah bagi masyarakat—khususnya para santri—untuk membaca, menulis, dan terlibat dalam diskusi mengenai beragam topik, mulai dari persoalan keagamaan hingga bidang ilmu lainnya. Peradaban Islam telah memberikan dampak mendalam bagi dunia kontemporer; pengaruh positif ini melampaui batas-batas geografis dan telah memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan peradaban global, dari masa lampau hingga saat ini. Oleh karena itu, peran santri dalam membentuk peradaban masa depan yang mengarah pada terwujudnya "Indonesia Emas" merupakan hal yang mutlak penting dan nyata.