Bencana Dalam Nalar Psikologi Agama
Oleh: Dr. H. Muhammad Nasir, S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Anambas
"Maka masing-masing Kami binasakan dengan sebab dosanya, yaitu di antaranya ada yang Kami hantarkan angin ribut menghujaninya dengan batu; dan ada yang dibinasakan dengan letusan suara yang menggemparkan bumi; dan ada yang Kami timbunkan dia di bumi; dan ada pula yang Kami tenggelamkan di laut. Dan (ingatlah) Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri. (AI-Ankabut 29:40)Bencana adalah suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa—yang dipicu oleh kekuatan alam, tindakan manusia, atau kombinasi keduanya—yang mengakibatkan kerugian besar terhadap nyawa manusia, ekosistem, dan aset. Bencana dapat berupa gempa bumi, banjir, tanah longsor, kekeringan, atau kebakaran hutan, maupun peristiwa yang disebabkan oleh manusia, seperti kecelakaan industri atau tindakan terorisme. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana mendefinisikan bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan masyarakat—yang disebabkan oleh faktor alam, nonalam, maupun faktor manusia—sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, serta dampak psikologis (Hidayat, 2022:5).Menurut mafhum ayat diatas, bencana alam yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan proses kehancuran yang terjadi akibat diri manusia itu sendiri. Muhammad Rasulullah saw, telah meberitakan bahwa; “apabila bumi menghampiri kemusnahan yaitu hari kiamat”, bencana alam akan sering terjadi. Hal ini terbukti apa yang terjadi di Sumatra Barat, Kalimantan, Sumatra Utara dan Aceh serta di beberapa belahan dunia lainnya, abaik berupa banjir, gunung meletus, kebakaran hutan sehingga menimbulkan asap dan lainnya.Indonesia termasuk salah satu negara yang paling rentan terhadap bencana. Posisi negara ini di kawasan Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) membuatnya rentan terhadap gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi yang sering terjadi. Selain itu, bencana hidrometeorologi—seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan—juga kerap melanda berbagai wilayah. Dalam kondisi seperti ini, diperlukan inisiatif pendidikan yang signifikan untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana di kalangan masyarakat.Dalam budaya Islam, bencana alam senantiasa dipandang sebagai suatu musibah. Saat bencana melanda, seseorang cenderung lebih sering menyebut nama Tuhan dibandingkan dalam situasi normal. Ketika menghadapi bencana, ucapkanlah: "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un" (QS 2:156). Dalam kondisi ini, seseorang secara psikologis menyandarkan diri sepenuhnya—dengan segala keterbatasannya—kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jiwa mendorong manusia untuk mengakui keagungan Tuhan di atas segalanya. Penghayatan manusia cepat hadir dengan segala keyakinannya bahwa dirinya adalah mahkluk kecil yang membutuhkan pertolongan Tuhan.Psikologi agama yang dibahas dalam artikel ini berfungsi mengarahkan jiwa dalam sebuah perjalanan menuju tataran yang lebih tinggi, yakni esensi agama—sebuah realitas yang menghadirkan nilai-nilai spiritual inti sekaligus memberikan panduan praktis (Komaruddin Hidayat, 2006). Psikologi membantu kita mengenali kekacauan dalam emosi, pikiran, dan tindakan—suatu kondisi yang menuntut pemahaman dan solusi—sementara agama menyediakan jalan untuk melangkah maju. Dalam konteks ini, iman hadir sebagai sebuah lompatan sekaligus keputusan yang melampaui kesimpulan logis maupun kemampuan akal, bergerak menuju ranah yang bersifat supra-rasional dan transendental.Dari sudut pandang psikologis, menghadapi suatu bencana tampaknya dapat meningkatkan kesadaran dan kepekaan seseorang dalam merenungkan pengalaman yang dialaminya. Hal ini dapat dengan mudah mendorong tumbuhnya kesadaran diri—terutama jika peristiwa tersebut tergolong signifikan, merugikan, atau memberikan dampak buruk bagi individu yang bersangkutan.Kurangnya kesadaran terhadap bencana dan keadaan darurat mencerminkan tingkat internalisasi nilai-nilai keagamaan yang masih dangkal dalam diri seseorang.Berikut ini, penulis menyajikan berbagai strategi psikologis yang dapat meningkatkan kesadaran diri saat menghadapi bencana:Pertama, Mendekatkan Diri Kepada Allah SWTMendekatkan diri kepada Allah (SWT) merupakan upaya spiritual yang melibatkan pengembangan hubungan yang lebih kuat dan mendalam dengan Sang Pencipta—sebuah proses yang diyakini dapat meningkatkan ketenangan batin (jiwa) serta kesehatan emosional.Pendekatan ini sering dipandang sebagai cara untuk memperkuat iman dan spiritualitas, yang mencakup praktik ibadah sehari-hari maupun upaya yang lebih luas dalam pengembangan diri. Kesehatan holistik—yang mencakup aspek fisik dan spiritual—menandakan suatu kondisi keseimbangan yang melampaui ranah fisik, serta mencakup tercapainya keseimbangan mental, emosional, dan sosial. Dalam tradisi Sufi, hal ini disebut sebagai taqarrub.Menurut Al-Ghazali, mendekatkan diri kepada Allah atau taqarrub adalah penyucian hati dari segala sesuatu selain Allah. Jika hati telah suci, maka Allah akan hadir bersama hamba tersebut, karena tidak ada lagi hijab (penghalang) antara hamba dan Allah. Kedekatan ini bukan kedekatan tempat, melainkan kedekatan sifat dan hati, yakni manifestasi sifat-sifat Allah dalam diri manusia sehingga melahirkan rasa cinta kepada Allah (mahabbah).Tujuan Allah menciptakan manusia semata-mata agar mereka mengabdi dan memuliakan-Nya. Manusia juga diciptakan sebagai khalifatul fil ardhi (pemimpin di muka bumi). Pada awal penciptaan manusia—tepatnya saat penciptaan Adam—Allah menunjukkan keistimewaan manusia dengan memerintahkan para malaikat dan jin untuk bersujud kepada mereka; namun, karena kesombongannya, golongan jin menolak untuk bersujud kepada manusia. Sejak peristiwa ini manusia selalu diajak oleh iblis untuk menjauhi Tuhannya.Banyak orang merasa kehilangan arah karena jarak mereka dengan Allah SWT. Padahal, berkat kasih sayang-Nya kepada umat manusia, Allah senantiasa berada sangat dekat dengan hamba-hamba-Nya. Buktinya tampak pada kehadiran Allah SWT yang senantiasa disertakan dalam setiap langkah dan embusan napas sepanjang hidup—sebuah cerminan kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Tak sekalipun kucuran nikmat berhenti terhampar dalam lubuk hati terdalam, menerangi lorong-lorong batin yang kelam dalam diri setiap insan.Kita sering kali menciptakan jarak antara diri kita dan Dia, padahal Dia senantiasa dekat dengan kita. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Mereka dianugerahi akal—sebuah sarana krusial untuk menempuh perjalanan hidup—yang memungkinkan mereka membedakan antara yang baik dan yang buruk. Kemampuan ini hadir dalam diri setiap individu sebagai sebuah potensi.Ketika diminta untuk menjelaskan apa itu manusia, banyak orang merasa kesulitan untuk memberikan jawaban yang singkat. Sering kali, mereka mendefinisikan diri sendiri hanya dengan satu atau dua kata—sebagai contoh, dengan menyebut manusia sebagai "ciptaan ideal Tuhan," hayawanun naatiq (makhluk hidup yang berbicara), homo sapiens, homo educandus (makhluk yang senantiasa belajar), "hewan yang berpikir," atau istilah-istilah serupa lainnya.Dalam perspektif psikologi agama taqarrub adalah sebuah kesadaran terjadinya komunikasi dan dialog langsung antara hamba dan Tuhan, serta latihan spiritual untuk membersihkan dan memperdalam nilai-nilai kerohanian demi mendekatkan diri kepada Allah. Sejalan dengan itu taqarrub juga menekankan upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui penyucian hati, cinta, dan ketaatan. Dalam hal ini dikenal dengan metode khusus dalam tasawuf yang disebut dengan tarekat. Tarekat adalah sebuah jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad,saw kepada umatnya.Tarekat (tarekat Sufi) pada hakikatnya merupakan praktik spiritual dalam tradisi Sufi yang dipimpin oleh seorang pembimbing spiritual (mursyid). Sang mursyid telah mewarisi ajaran-ajaran ini melalui silsilah yang bersambung hingga sampai kepada Nabi Muhammad (saw.). Ibn ‘Arabi, sebagaimana dirujuk oleh Robert Frager, menggambarkan tarekat sebagai serangkaian praktik spiritual tertentu dalam perjalanan seorang Sufi. Hal ini diibaratkan seperti menempuh perjalanan melintasi padang pasir, berpindah dari satu oasis ke oasis berikutnya tanpa penanda yang jelas; ini merupakan sebuah wilayah yang luas dan tidak terdefinisi secara kaku, bukan sekadar rute yang spesifik dan konkret.Untuk melintasi padang pasir semacam itu, seorang pengembara spiritual (salik) harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang medan tersebut atau mengandalkan seorang pembimbing (syekh)—yakni seseorang yang memahami tujuan yang hendak dicapai serta mengetahui berbagai penanda penting di sepanjang perjalanan tersebut (Robert Frager, 2014).Jalan yang ditempuh dalam tarekat senantiasa mengarah pada tujuan akhir, yaitu Allah SWT. Untuk dapat berjumpa dengan Tuhan, setiap individu harus siap melepaskan keterikatan mereka pada kehidupan duniawi. Dalam konteks ini, fitrah mencerminkan suatu bentuk sikap tanpa pamrih pada diri manusia, karena tujuannya adalah untuk senantiasa menuntun individu menuju jalan Allah. Sebagai khalifatul fil ardh (wakil Tuhan di muka bumi), manusia sepatutnya berserah diri kepada Allah. Sikap berserah diri merupakan cara mendasar bagi manusia dalam menjalankan perannya sebagai khalifah di bumi. Cara untuk berserah diri kepada Allah mencakup sikap tanpa pamrih, kerendahan hati, rasa syukur yang mendalam, serta kebebasan dari belenggu ke-egoisan.Diantara bentuk mendekatkan diri yang paling utama dalam ibadah adalah sujud. Terdapat dua makna sujud dalam ibadah. Pertama sujud dalam arti harfiyah yaitu gerakan sujud yang dilakukan dalam sholat. Sujud ini merupakan gerakan sholat yang wajib dilakukan dengan syarat dan rukun tertentu. Kedua adalah sujud dalam arti hakikiyah, yaitu sujud yang melambangkan ketundukan kepada Sang Pencipta. Sujud dalam arti hakikiyah adalah sujud dan tunduknya bain seorang hamba keoada Tuhannya dalam setiap tindakanya. Sujud dalam hal ini adalah sujud dimana sang hamba dengan tuhannya sangat dekat.Kita tidak akan mampu mendekati Tuhan tanpa sujud. Air kehidupan ini hanya dapat didekati dengan sujud, begitu kata Rumi Sang Filsuf sejati. Tembok yang menghalangi kita untuk dekat kepada Tuhan adalah tembok keangkuhan dan kesombongan diri. Sujud adalah lambang kerendahan diri, semakin seseorang merendahkan dirinya semakin dekat pula ia dengan Allah Yang Maha Tinggi.Rasulullah SAW bersabda; “Saat ketika seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah saat ketika ia dalam sujud.” Ketika bersujud, ia menempelkan kepalanya yang menjadi lambang kepongahan pada tempat yang serendahnya. Dalam sholat kita sujud secara harfiyah dan hakikiyah sekaligus. Dalam kitab adabussholat, Imam Khomeini menegaskan bahwa kita tidak akan pernah bisa khusuk alam sholat sebelum kita merasakan kerendahan diri dan kebesaran Allah SWT.Kedua, Menyerahkan Diri Kepada Allah SWTDasar penyerahan diri manusia bisa dilihat dari implementasi kelima rukun Islam. Yang pertama ialah dua kalimat syahadat. Pada kalimat dua syahadat ini, manusia sebenarnya sudah benar percaya bahwa Allah adalah Esa dan Muhammad adalah utusan-Nya. Karena dalam kalimat syahadat ini, manusia berkata bahwa ia “menyaksikan” dan bukan “kesaksian”. Disini dapat kita pahami bahwa makna kalimat “menyaksikan” ialah kalimat yang murni dari diri sendiri dan tanpa ada unsur paksaan.Dalam kata “menyaksikan” ternyata sangatlah erat dengan fitrah yang terbentuk sebagai potensi penyerahan diri manusia. Ketika manusia sudah mengucapkan kalimat syahadat, berarti ia meyakini bahwa disegala apapun dan kapanpun ada Allah di dekatnya sehingga ia bisa menyaksikan-Nya. Salah satu bentuk manusia sadar bahwa Allah selalu berada di dekatnya, ia akan senantiasa berbuat kebaikan karena ia mengetahui bahwa ia sedang menyaksikan Allah, dan ia tidak ingin membuat Allah murka kepadanya karena ia memilih jalan yang salah. Disini potensi fitrah bisa optimal karena manusia senantiasa menuju kepada hakikatnya, yaitu menuju kebenaran.Ketenangan akan diperoleh individu manakala ia mampu dan sadar akan kefitrahan dirinya sendiri. Keberadaannya diidentifikasi sebagai kekuatan yang tersimpan dengan rapi. Kekuatan yang bernama fitrah itu kemudian bisa dipancarkan dari dalam dirinya dan dialirkan ke dalam jiwa, pikiran, dan aliran darah. Sehingga ia akan bersifat dengan penuh kehanifan, artinya ia selalu berbuat dan mencari kebenaran dan kebaikan di setiap hembusan nafasnya, sehingga manfaat yang paling terpenting dalam sikap kehanifan manusia ialah akan terbukanya sedikit demi sedikit tabir antara dia dengan Allah. Karena fitrah tidak mungkin menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesesatan. Maka ia akan selalu dekat dengan Allah dimanapun dan kapanpun jika ia mengoptimalkan pekerjaan fitrah dalam kehidupannya.Ketiga, Menenggelamkan Diri Kepada Allah SWT“Menenggelamkan diri”—dalam konteks psiko-spiritual—merupakan tindakan sadar yang muncul dari lubuk jiwa yang paling dalam. Proses ini menjadi jalan untuk mencapai hakikat keberadaan yang sejati: berevolusi menjadi manusia dalam wujud yang paling otentik. Sering kali, seseorang melupakan jati dirinya sendiri, sehingga kehilangan pandangan akan hakikat dasar keberadaannya.Dalam kondisi ini, seseorang melangkah ke dalam ranah ketidakkekalan—sebuah keadaan yang melampaui batasan bahasa—dan larut dalam “kekosongan” mendalam di mana ia tidak menggenggam apa pun. Pada titik inilah seseorang menjadi manusia seutuhnya; ia tidak lagi bergantung pada apa yang dimilikinya, melainkan pada apa yang tidak dimilikinya.Memiliki berbagai benda merupakan beban berat yang mengganggu kedamaian dan kepuasan batin; oleh karena itu, seseorang justru merasakan lebih banyak kebahagiaan dalam memberi daripada menerima.Salah satu diantara cara untuk melibatkan diri sepenuhnya—untuk benar-benar larut dalam suatu pengalaman batin—adalah dengan menangis. Menangis merupakan karakteristik alami manusia, sebuah manifestasi dari rasa cemas dan takut. Seseorang akan menangis saat dihadapkan pada situasi yang mendatangkan rasa sakit atau ketakutan. Tangisan berfungsi sebagai proses katarsis—sebuah cara untuk meluapkan isi hati yang merasa kalah atau terpuruk. Seseorang mungkin menangis ketika orang terkasihnya meninggal dunia. Para janda bisa saja meratap dan menangis saat menyaksikan alat berat milik satuan polisi pamong praja setempat datang untuk membongkar kios atau usaha kecil mereka.Tangisan bagi seorang muslim adalah rasa harap dan cemas, sebagaimana diekspresikannya ketika ia berdo’a dan berzikir memohon perlindungan. Kita saksikan tetesan tangis air mata orang-orang saleh pada waktu sholat. Kita saksikan air mata yang membasahi muka para haji di padang Arafah. Dan memang menagis adalah bagian akhlak orang-orang saleh, sebagaimana Allah swt berfirman; “Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusuk (Qs. Al-Isra’; 109 dan Qs. Maryam; 58).Menenggelamkan diri melalui tangisan adalah menguak tabir pintu kebahagiaan hakiki, bukan kenikmatan semu yang menyengsarakan. Tapi begitulah sifat umum manusia. Kita dapat melihat kehidupan di sekeliling kita. Hidup bagaikan dirancang hanya untuk mencari kenikmatan sementara. Tanpa kita sadari mungkin saja kita telah menjadi budak dunia.Begitu setianya kepada dunia, halal dan haram tidak ada di dalam kamus kehidupannya. Dia tidak berbicara bagaimana cara mendapatkannya, yang penting menikmatinya. Dunia hanyalah panggung sandiwara yang sejak dulu kala ceritanya tidak pernah berubah., hanya setting dan dekorasinya yang berubah. Sedang para pemainnya pergi silih berganti.Judulnya abadi, yang hak melawan yang bathil. Skenarionya tinggal memilih, apakah mau berperan sebagai Firaun, Abu Jahal, Htler ataukah George bush. Dan akhirnya permainan selalu ada hujungnya. The End atau mati.Individu yang berhasil meneggelamkan diri sepenuhnya dalam kebahagiaan sejati mereka telah mencapai pembebasan spiritual. Dari perspektif psikologi agama, mereka terbebas dari beban jiwa. Dalam tradisi Sufi, seseorang yang benar-benar bebas adalah mereka yang terlepas dari segala bentuk penghambaan, kecuali kepada Sang Maha Bebas, yakni Allah SWT. Bagi mereka, keyakinan Lailaha Ilallah (tiada Tuhan selain Allah) merupakan sebuah ikrar sekaligus kekuatan yang membebaskan—melepaskan mereka dari segala penindasan dan penghambaan kepada apa pun yang tidak layak disembah atau diagungkan, selain Allah SWT. Sebab itu, kebebasan spiritual merupakan bentuk kebebasan tertinggi, yang memberikan panduan serta esensi bagi kesadaran manusia. Namun, kebebasan spiritual tidak dapat berdiri sendiri; ia memerlukan dukungan berupa kedalaman intelektual, prinsip-prinsip moral, dan dedikasi pribadi untuk mewujudkan transformasi. Oleh karena itu, berbagai bencana yang kini melanda planet kita bukanlah sekadar peristiwa yang patut ditakuti dan diatasi; melainkan, bencana-bencana tersebut merupakan pesan ilahi—yang disampaikan melalui "ayat-ayat" alam semesta—untuk menggugah umat manusia, mendorong kita agar mendekat, berserah diri, dan menjalin hubungan lebih dengan Tuhan Sang Pencipta di balik bencana-bencana tersebut.